Review – Eticaretsayfam
 

Category: Review

Festival Film Plaza Indonesia, yang berlangsung dari 14 hingga 17 Februari dalam 4 hari, menampilkan 12 film yang dipilih dari 100 film internasional dan Indonesia. Ke-12 film tersebut menunjukkan topik berbeda tentang masalah sosial yang muncul. Mulai dari pertanyaan waria tentang toleransi beragama.

Ada sejumlah film pendek dan panjang yang mewarnai PIFF. Salah satunya adalah Ave Maryam oleh Regimo Erimo Robby Soediskam. Ini dimainkan oleh berbagai aktor populer seperti Maudy Koesnaedi Chicco Jerikho dan Olga Lydia.

Film berdurasi 74 menit ini bercerita tentang toleransi beragama dengan melihat latar belakang kejadian Semarang. Setelah memenangkan hadiah di berbagai festival film di berbagai negara, kami melihat ulasan versi IDN Times, yang kemarin melihat versi tanpa sensor ditayangkan pada tanggal 14 Februari.

  1. Kisah pelayanan Maryam untuk merawat biarawati yang lebih tua di kota Semarang

Dengan latar belakang kejadian di rumah saudari di Semarang, film ini telah memilih lokasi film bertema vintage dengan arsitektur yang sangat estetis masa lalu. Cerita dimulai dengan deskripsi kehidupan Maryam, seorang biarawati yang telah mengabadikan dirinya untuk perawatan para biarawati yang lebih tua.

Seperti halnya festival film pada umumnya, tidak ada banyak dialog dan kemunduran dalam film ini. Tetapi penonton harus menikmati detail suara langkah-langkah itu. Derakan pintu terbuka ke suara yang dihasilkan oleh objek.

  1. Pesan toleransi beragama yang disembunyikan oleh adegan pendek

Toleransi beragama yang diperlihatkan dalam film ini menggambarkan berbagai adegan sederhana yang mengasumsikan kehadiran anak berkerudung yang biasanya memasok susu ke asrama dan gereja para suster. Sampai keragaman agama menjadi terlihat melalui adegan ketika Maryam lewat di depan masjid dengan seragam perawat.

  1. Gerakan dan gerakan pemain sangat menarik

Sosok Maryam, yang diam, digambarkan sebagai orang yang benar-benar berpikir bebas dan mencari makna kebahagiaan dalam hidupnya. Ini diilustrasikan oleh pemandangan Maryam ketika jendela terbuka dan ada permukaan laut yang tenang.

Maryam, yang gemar membaca, juga membuat buku dengan judul dan gambar sampul yang tidak biasa. Kehidupan positif Maryam sehari-hari, seperti mandi untuk orang tua, beribadah di gereja, membuat para hadirin menunggu konflik yang dihadapi Mary. Masyarakat harus menganalisis pesan yang disampaikan oleh ekspresi wajah yang sangat kuat.

  1. Kalimat Yosef yang membuatmu tertawa

Rutinitas datar Maryam berubah ketika Pastor Yosef, yang diperankan oleh Chicco Jerikho, hadir di biara Monic, yang telah membesarkannya. Sister Monic tidak membuat hidupnya mudah. Kehadiran Pastor Giuseppe, yang mengundang Maria ke hal-hal baru, membuat Mary jatuh cinta.

Terutama ketika Pastor Joseph menunjukkan kemampuannya sebagai mentor musik sakral. Namun, ada serangkaian dialog antara Joseph dan Mary yang membuat Anda tertawa seperti “Mary, saya ingin mengundang Anda untuk menemukan hujan di tengah malam”, yang tiba-tiba membuat hadirin tertawa.

  1. Cinta terlarang antara Maria dan Joseph

Konflik klimaks terjadi ketika Maria dan Yusuf terlibat dalam cinta terlarang. Perjuangan batin antara prinsip menjaga dan mengikuti inti kebahagiaan diilustrasikan oleh adegan erotis Maudy Koesnaedi dan Chicco Jerickho. Maryam dan Joseph merasa kacau tentang apa yang mereka lakukan bersama.

Ave Maryam juga telah mengirimkan berbagai pesan yang sangat menyentuh melalui dialog para pemainnya, yang merupakan ungkapan-ungkapan pintar seperti “menjawab sajak”. Salah satu ungkapan berdering adalah ketika Sister Monic berkata, “Jika surga bukan untuk saya, mengapa saya harus menjaga keseimbangan Anda?” termasuk frasa, “Jaga kultus Anda sebagai rahasia sambil menjaga kemalangan Anda.”

Ave Maryam penuh dengan pesan yang ditandai oleh berbagai karakter dan dialog, dan memiliki aktor yang dapat mentransmisikan perasaan mereka secara total dengan hit epik. Untuk film, yang akan diputar di bioskop-bioskop April ini, IDN Times memberi peringkat 3/5

Johann Van Galen, pelatih timnas Japan Youth All-Stars, mengadakan sesi triangle game pada penentuan 22 pemain yang hendak disiapkan untuk turnamen J-Cup yang diikuti Jepang, Meksiko, Italia dan Korea Selatan. Di akhir seleksi yang diikuti 33 pemain itu, ia membuat tiga tim untuk menyisihkan 11 pemain. Hanya dua kesebelasan yang paling banyak mencetak gol yang nantinya dibawa ke Italia, area diselenggarakannya J-Cup. Yang jadi kejutan, bonus member baru mengatakan Van Galen memasang Kaoru Okita, pemain yang senantiasa mendapatkan nilai paling atas sejak pemain seleksi diisi oleh 43 pemain, dengan pemain-pemain yang kebanyakan mendapatkan nilai rendah. Teppei Sakamoto, yang lebih dari satu kali mendapatkan teguran berasal dari Van Galen, bahkan mendapatkan minus 1,5 poin, justru ditempatkan dengan para pemain paling baik dalam skuat tersebut. Di akhir pertandingan, tim yang diisi Okita kalah. Van Galen tak menampik bahwa tersedia unsur kesengajaan yang membuat Okita, pemain paling berteknik di skuat tersebut, meniti pertandingan lebih sulit (karena rekan setimnya tidak diisi oleh pemain-pemain terbaik) hingga selanjutnya tersingkir. Alasan pelatih asal Belanda berikut menyisihkan Okita adalah karena, fantasista wa pitch ni futari wa iranai, yang bermakna “Sebuah tim tidak membutuhkan dua fantasista di lapangan”. Bersama Ernesto Valverde, Barcelona disebut-sebut tampil jauh lebih baik berasal dari lebih dari satu musim sebelumnya, lebih-lebih berasal dari musim 2016/2017 disaat Barca ditangani Luis Enrique. Situasi ini lumayan mengejutkan. Pertama, Valverde singgah sebagai mantan pelatih Athletic Bilbao yang prestasi terbaiknya juara Piala Super Spanyol sekali dan jadi runner-up Copa del Rey sekali. Prestasi menterengnya terjadi di Liga Yunani dengan tiga trofi domestik. Kedua, musim ini Barca ditinggalkan tidak benar satu pemain terbaiknya, Neymar jr. ke Paris Saint-Germain. Apalagi pemain penggantinya, Ousmane Dembele, langsung cedera panjang di awal musim. Kehilangan Neymar inilah yang aku soroti membuat Barca mempunyai tampilan lebih baik. Untuk menakar sejauh mana permainan impresif Barcelona, kami bisa mendengar komentar Lionel Messi yang merasa timnya tampil lebih baik dengan Valverde yang mengfungsikan formasi dasar 4-4-2. “Pelatih telah mengetahui mengatakan sejak awal perihal apa yang ia inginkan. Kami membuat kami sendiri kuat dalam bertahan dan selagi menyerang kami mempunyai pemain dengan mutu tinggi,” kata Lionel Messi pada Februari 2018. “Tanpa Neymar kami jadi lebih seimbang. Kepergiannya membuat kami merubah cara bermain. Kami kehilangan banyak potensi di lini depan namun kami meningkat di lini pertahanan. Kami lebih sesuai dan skema ini membuat kami jauh lebih solid.” Messi secara gamblang mengatakan keuntungan berasal dari kepergian Neymar adalah membuat timnya jadi solid dalam bertahan. Melihat statistik di La Liga, yang dikatakan Messi di atas sesuai fakta. Saat artikel ini ditulis (La Liga tinggal tersisa tiga laga) Barca yang telah memastikan gelar juara cuma kebobolan 23 kali berasal dari 35 laga. Mereka terhitung mencatatkan 18 kali nirbobol. Musim selanjutnya Barca yang cuma mendapatkan gelar juara Copa del Rey kebobolan 37 kali di La Liga. Nirbobol `hanya` 13 kali. Maka barangkali inilah yang dimaksud Van Galen pada Fantasista bahwa sebuah tim tidak membutuhkan dua fantasista. Cerita pada manga “Fantasista” di awal tulisan inilah yang ulang menyeruak pada permukaan ingatan disaat aku membaca komentar-komentar pemain dan para pengamat La Liga tentang tampilan Barcelona musim ini. Messi dan Neymar adalah dua pemain yang layak disebut fantasista. Fantasista ini bukan peran bahkan posisi dalam sebuah formasi. Fantasista adalah istilah Bahasa Italia untuk pemain yang mempunyai mutu individu mumpuni dan olah bolanya bisa membuat pemirsa berdecak kagum. Fantasista sama dengan nomor punggung 10 di masa 90-an, layaknya Roberto Baggio, Alessandro Del Piero, Francesco Totti, Diego Maradona hingga Pele di masa lalu. Akan namun tersedia terhitung pemain-pemain yang dijuluki fantasista namun tidak mengenakan nomor 10, layaknya Andrea Pirlo (21), Johan Cruyff (14), Franz Beckenbauer (5), Alvaro Recoba (20), Zinedine Zidane (21), Ricardo Kaka (22), bahkan hingga yang terkini yakni Cristiano Ronaldo (7). Lionel Messi dan Neymar pun terhitung kategori pemain yang layak disebut sebagai fantasista. Penampilan individu keduanya bisa pilih hasil akhir pertandingan dan membuat pemirsa terpusat perhatiannya pada mereka. Nah, munculnya Neymar sebagai fantasista baru di sepakbola selagi ini tak terlepas berasal dari penampilannya dengan Barca. Saat awal bergabung Barca pada 2013, Neymar masih berada dalam bayang-bayang Messi. Ia cuma mencetak 9 gol dan 10 asis di La Liga (total 15 gol di segala ajang). Satu musim berikutnya, Neymar merasa terbiasa atmosfer sepakbola Eropa. Ia pun mencatatkan 22 gol dan 9 asis di La Liga. Walaupun begitu catatan berikut masih membuatnya berada di bawah Messi yang keseluruhan mencetak 58 gol dalam satu musim.
Kita seringkali mendengar penggemar sepakbola membangga-banggakan kesebelasan nasional negaranya atau lebih-lebih pemain yang berasal dari negaranya. Ketika tim nasionalnya menang, mereka turut suka dan bangga. Ketika tim nasionalnya kalah, mereka turut bersedih. Seakan mereka termasuk turut bertanding. Tak hanya tim nasional, penggemar sepakbola lebih-lebih yang bukan berasal dari negara superpower dalam sepakbola kebanyakan turut membangga-banggakan pemain yang berasal dari negaranya meski tak tengah membela tim nasional. Mohamed Salah misalnya, tetap dipuja-puja warga Mesir disaat ia tengah bermain untuk Liverpool. Bahkan tak sedikit pula warga Mesir yang jadi penggemar dadakan klub asal Merseyside ini hanya karena Salah, pemain kebanggaan mereka, bermain untuk klub tersebut. Menurut agen bola penipu, Membanggakan seorang pemain atas basic kebangsaan barangkali telah mainstream, tetapi kini yang tengah populer adalah turut membanggakan pemain atas basic agama. Semangat inilah yang diusung oleh akun Instagram Muslim Footballers dan Muslim Athletes. Muslim Footballers (@muslimfoorballer) adalah akun di Instagram yang menyajikan informasi, berita, foto, fakta dan kutipan dari pesebakbola Muslim. Akun ini sering membagikan Info berkaitan keislaman seorang pemain sepakbola, kalau foto seorang pemain sepakbola yang tengah melaksanakan Umroh, Haji atau sebatas salat berjamaah di Masjid. Nama pemain sepakbola terkenal yang sering disebut di akun ini adalah Salah dan N’golo Kante. Tak jarang pula pertanyaan seperti “Pemain A Islam bukan min?” terlihat di kolom komentar akun Instagram ini. Akun Instagram Muslim Athletes (@muslimathletes) tak jauh tidak sama bersama akun Muslim Footballers. Bedanya ia menyajikan Info berkaitan atlet olahraga secara luas, tak hanya pemain sepakbola saja. Akun Muslim Athletes diikuti sebanyak 190 ribu pengikut saat akun Instagram Muslim Footballers diikuti 13 ribu pengikut. Kedua akun ini dan pengikutnya miliki impuls yang sama bersama impuls nasionalisme. Mereka turut bangga disaat pemain beragama Islam sukses meraih penghargaan. Mereka lebih-lebih menopang pemain beragama Islam meskipun pemain tersebut tak tengah bermain untuk klub atau kesebelasan yang di dukung oleh sang fans. Selama ini kita menganggap bantuan yang diberikan penggemar terhadap pemain sepakbola dari negaranya sebagai suatu hal yang wajar. Sementara, tak sedikit yang beranggapan bahwa akun seperti Muslim Athletes adalah suatu hal yang absurd. Padahal jikalau kita tinjau ulang, menopang atas basic nasionalisme termasuk merupakan rencana yang tak kalah absurd. Kita tak mengenal sang pemain secara pribadi, kita lebih-lebih barangkali tak pernah berjumpa dengannya secara langsung. Mengapa kita perlu mulai bangga disaat sang pemain meraih prestasi? Yuval Noah Harari dalam karyanya Sapiens: A Brief History of Mankind berpendapat bahwa nasionalisme sebatas suatu mitos bersama atau “shared myth”. Ia hanya tersedia karena manusia secara beramai-ramai mempercayai mitos tersebut. Mitos ini terlihat seiring perkembangan peradaban. Dahulu, manusia hidup dalam kelompok-kelompok kecil sehingga ia miliki ikatan yang kuat secara pribadi. Seiring membesarnya kelompok manusia sampai suatu titik di mana nyaris tak barangkali mereka mengenal satu sama lain secara pribadi, diperlukan suatu metode organisasi sosial yang baru. Salah satunya adalah nasionalisme. Kisah fiksi nasionalisme terlihat sebagai metode organisasi sosial untuk menghimpun cara pandang begitu banyak ragam manusia. Menurut Benedict Anderson, nasionalisme adalah suatu imagined community. Ia merupakan konstruksi sosial untuk menghimpun begitu banyak ragam manusia dalam suatu komunitas yang di mana ia miliki rasa kepemilikan atau “sense of belonging”. Sense of belonging terhadap suatu bangsa inilah yang membuat seorang penggemar sepakbola menopang dan turut membanggakan prestasi seorang pemain yang berasal dari negara mereka. Setiap manusia miliki identitas yang interseksional. Identitas tersebut dapat mencakup gender, ras, bangsa, agama, suku, strata sosial dan lain-lain. Seseorang dapat saja berbangsa X, beragama Y dan bersuku Z. Sebagai contoh, aku adalah seseorang yang berwarganegara dan berbangsa Indonesia, beragama Islam dan merupakan keturunan suku Melayu. Oleh karena itu, sebetulnya identitas aku tak hanya terbatas sebagai seseorang yang berbangsa Indonesia. Sepanjang histori peradaban manusia, identitas utama seseorang selalu berganti. Di jaman kekhalifahan Islam misalnya, agama jadi identitas utama seseorang. Bahkan di jaman Perang Dunia II, kelompok Nazi tempatkan identitas ras Arya sebagai identitas utama mereka. Meski merupakan warga negara Jerman, Yahudi dieksterminasi karena tak miliki ras Arya yang diakui superior. Keutamaan negara bangsa sebagai identitas seseorang adalah konstruksi yang merupakan warisan bangsa barat. Konsep negara-bangsa yang berdaulat berasal dari Eropa bersama ditandatanganinya Perjanjian Westphalia.

Eticaretsayfam ©2019. All Rights Reserved.
Powered by WordPress. Theme by Phoenix Web Solutions