Review – Eticaretsayfam
 

Category: Review

Borneo FC menyelenggarakan Bhayangkara FC di Stadion Aji Imbut, Tenggarong, jadwal bola malam ini, Kamis (16-05-2019) pukul 20:30 WIB. Kedua tim diharapkan menurunkan tim terbaik untuk mendapatkan poin pertama mereka di awal musim 2019. Tidak dapat bermain di Samarinda, Borneo FC akan memulai musim Liga 2019 di markas terdekat di Kalimantan Timur. Tim Pesut Etam bahkan membuat persiapan terbaik karena mereka tahu mereka akan bertemu salah satu tim kuat di pertandingan pertama mereka, Bhayangkara FC.

Lerby Eliandry dan yang lainnya diharapkan menang dalam pertandingan ini, karena saat Anda bermain di kandang, Borneo FC selalu menang. Selain itu, kakek Mario Gomez juga memainkan peran penting dalam menyingkirkan Persib Bandung di 8 Piala Indonesia terakhir. Bhayangkara FC harus berhati-hati dengan tabrakan pelatih Mario Gomez, yang kini memiliki lebih banyak peluang daripada sebelumnya, meskipun mereka hanya memperkenalkan dua pemain asing baru.

Matias Conti

Matias Conti menjadi satu-satunya pemain asing yang dipertahankan oleh Borneo FC di musim 2019. Koneksi permainannya membuatnya lebih berharga daripada pasukan asing lainnya. Conti diperkenalkan oleh Borneo FC agar dapat mengatasi masalah penyelesaian akhir di gelombang kedua musim 2018. Pemain asal Argentina ini menanggapi kepercayaan yang diberikan dengan mencetak 11 gol dari 16 penampilan. Harapan tinggi kembali ditanggung oleh Conti di musim 2019 dan mulai dari pertarungan melawan FC Bhayangkara ini.

Flavio Beck Junior
Sebelum bergabung dengan Bhayangkara FC, pemain Brasil ini membela Borneo FC di musim 2016. Tentu saja, Flavio memiliki rasa manis ketika berseragam di Pesut Etam. Tetapi Flavio berjanji untuk menjadi profesional di Bhayangkara FC, meskipun ia membela Borneo FC. Pemain berusia 32 tahun itu bertekad untuk menghadirkan kemenangan bagi The Guardian di pertandingan pertamanya.

Perkiraan skor
Manajemen percaya bahwa Gomez dapat meningkatkan kinerja tim. Penilaian tersebut mencerminkan keberhasilan Persib di tempat keempat pada akhir musim lalu dan keberhasilan dengan klub raksasa Malaysia Johor Darul Takzim. Karena keberadaan Gomez, Bhayangkara FC bisa menjadi langkah pertama ke babak berikutnya. Kami memperkirakan bahwa mereka menang 2-0.

Festival Film Plaza Indonesia, yang berlangsung dari 14 hingga 17 Februari dalam 4 hari, menampilkan 12 film yang dipilih dari 100 film internasional dan Indonesia. Ke-12 film tersebut menunjukkan topik berbeda tentang masalah sosial yang muncul. Mulai dari pertanyaan waria tentang toleransi beragama.

Ada sejumlah film pendek dan panjang yang mewarnai PIFF. Salah satunya adalah Ave Maryam oleh Regimo Erimo Robby Soediskam. Ini dimainkan oleh berbagai aktor populer seperti Maudy Koesnaedi Chicco Jerikho dan Olga Lydia.

Film berdurasi 74 menit ini bercerita tentang toleransi beragama dengan melihat latar belakang kejadian Semarang. Setelah memenangkan hadiah di berbagai festival film di berbagai negara, kami melihat ulasan versi IDN Times, yang kemarin melihat versi tanpa sensor ditayangkan pada tanggal 14 Februari.

  1. Kisah pelayanan Maryam untuk merawat biarawati yang lebih tua di kota Semarang

Dengan latar belakang kejadian di rumah saudari di Semarang, film ini telah memilih lokasi film bertema vintage dengan arsitektur yang sangat estetis masa lalu. Cerita dimulai dengan deskripsi kehidupan Maryam, seorang biarawati yang telah mengabadikan dirinya untuk perawatan para biarawati yang lebih tua.

Seperti halnya festival film pada umumnya, tidak ada banyak dialog dan kemunduran dalam film ini. Tetapi penonton harus menikmati detail suara langkah-langkah itu. Derakan pintu terbuka ke suara yang dihasilkan oleh objek.

  1. Pesan toleransi beragama yang disembunyikan oleh adegan pendek

Toleransi beragama yang diperlihatkan dalam film ini menggambarkan berbagai adegan sederhana yang mengasumsikan kehadiran anak berkerudung yang biasanya memasok susu ke asrama dan gereja para suster. Sampai keragaman agama menjadi terlihat melalui adegan ketika Maryam lewat di depan masjid dengan seragam perawat.

  1. Gerakan dan gerakan pemain sangat menarik

Sosok Maryam, yang diam, digambarkan sebagai orang yang benar-benar berpikir bebas dan mencari makna kebahagiaan dalam hidupnya. Ini diilustrasikan oleh pemandangan Maryam ketika jendela terbuka dan ada permukaan laut yang tenang.

Maryam, yang gemar membaca, juga membuat buku dengan judul dan gambar sampul yang tidak biasa. Kehidupan positif Maryam sehari-hari, seperti mandi untuk orang tua, beribadah di gereja, membuat para hadirin menunggu konflik yang dihadapi Mary. Masyarakat harus menganalisis pesan yang disampaikan oleh ekspresi wajah yang sangat kuat.

  1. Kalimat Yosef yang membuatmu tertawa

Rutinitas datar Maryam berubah ketika Pastor Yosef, yang diperankan oleh Chicco Jerikho, hadir di biara Monic, yang telah membesarkannya. Sister Monic tidak membuat hidupnya mudah. Kehadiran Pastor Giuseppe, yang mengundang Maria ke hal-hal baru, membuat Mary jatuh cinta.

Terutama ketika Pastor Joseph menunjukkan kemampuannya sebagai mentor musik sakral. Namun, ada serangkaian dialog antara Joseph dan Mary yang membuat Anda tertawa seperti “Mary, saya ingin mengundang Anda untuk menemukan hujan di tengah malam”, yang tiba-tiba membuat hadirin tertawa.

  1. Cinta terlarang antara Maria dan Joseph

Konflik klimaks terjadi ketika Maria dan Yusuf terlibat dalam cinta terlarang. Perjuangan batin antara prinsip menjaga dan mengikuti inti kebahagiaan diilustrasikan oleh adegan erotis Maudy Koesnaedi dan Chicco Jerickho. Maryam dan Joseph merasa kacau tentang apa yang mereka lakukan bersama.

Ave Maryam juga telah mengirimkan berbagai pesan yang sangat menyentuh melalui dialog para pemainnya, yang merupakan ungkapan-ungkapan pintar seperti “menjawab sajak”. Salah satu ungkapan berdering adalah ketika Sister Monic berkata, “Jika surga bukan untuk saya, mengapa saya harus menjaga keseimbangan Anda?” termasuk frasa, “Jaga kultus Anda sebagai rahasia sambil menjaga kemalangan Anda.”

Ave Maryam penuh dengan pesan yang ditandai oleh berbagai karakter dan dialog, dan memiliki aktor yang dapat mentransmisikan perasaan mereka secara total dengan hit epik. Untuk film, yang akan diputar di bioskop-bioskop April ini, IDN Times memberi peringkat 3/5

Johann Van Galen, pelatih timnas Japan Youth All-Stars, mengadakan sesi triangle game pada penentuan 22 pemain yang hendak disiapkan untuk turnamen J-Cup yang diikuti Jepang, Meksiko, Italia dan Korea Selatan. Di akhir seleksi yang diikuti 33 pemain itu, ia membuat tiga tim untuk menyisihkan 11 pemain. Hanya dua kesebelasan yang paling banyak mencetak gol yang nantinya dibawa ke Italia, area diselenggarakannya J-Cup. Yang jadi kejutan, bonus member baru mengatakan Van Galen memasang Kaoru Okita, pemain yang senantiasa mendapatkan nilai paling atas sejak pemain seleksi diisi oleh 43 pemain, dengan pemain-pemain yang kebanyakan mendapatkan nilai rendah. Teppei Sakamoto, yang lebih dari satu kali mendapatkan teguran berasal dari Van Galen, bahkan mendapatkan minus 1,5 poin, justru ditempatkan dengan para pemain paling baik dalam skuat tersebut. Di akhir pertandingan, tim yang diisi Okita kalah. Van Galen tak menampik bahwa tersedia unsur kesengajaan yang membuat Okita, pemain paling berteknik di skuat tersebut, meniti pertandingan lebih sulit (karena rekan setimnya tidak diisi oleh pemain-pemain terbaik) hingga selanjutnya tersingkir. Alasan pelatih asal Belanda berikut menyisihkan Okita adalah karena, fantasista wa pitch ni futari wa iranai, yang bermakna “Sebuah tim tidak membutuhkan dua fantasista di lapangan”. Bersama Ernesto Valverde, Barcelona disebut-sebut tampil jauh lebih baik berasal dari lebih dari satu musim sebelumnya, lebih-lebih berasal dari musim 2016/2017 disaat Barca ditangani Luis Enrique. Situasi ini lumayan mengejutkan. Pertama, Valverde singgah sebagai mantan pelatih Athletic Bilbao yang prestasi terbaiknya juara Piala Super Spanyol sekali dan jadi runner-up Copa del Rey sekali. Prestasi menterengnya terjadi di Liga Yunani dengan tiga trofi domestik. Kedua, musim ini Barca ditinggalkan tidak benar satu pemain terbaiknya, Neymar jr. ke Paris Saint-Germain. Apalagi pemain penggantinya, Ousmane Dembele, langsung cedera panjang di awal musim. Kehilangan Neymar inilah yang aku soroti membuat Barca mempunyai tampilan lebih baik. Untuk menakar sejauh mana permainan impresif Barcelona, kami bisa mendengar komentar Lionel Messi yang merasa timnya tampil lebih baik dengan Valverde yang mengfungsikan formasi dasar 4-4-2. “Pelatih telah mengetahui mengatakan sejak awal perihal apa yang ia inginkan. Kami membuat kami sendiri kuat dalam bertahan dan selagi menyerang kami mempunyai pemain dengan mutu tinggi,” kata Lionel Messi pada Februari 2018. “Tanpa Neymar kami jadi lebih seimbang. Kepergiannya membuat kami merubah cara bermain. Kami kehilangan banyak potensi di lini depan namun kami meningkat di lini pertahanan. Kami lebih sesuai dan skema ini membuat kami jauh lebih solid.” Messi secara gamblang mengatakan keuntungan berasal dari kepergian Neymar adalah membuat timnya jadi solid dalam bertahan. Melihat statistik di La Liga, yang dikatakan Messi di atas sesuai fakta. Saat artikel ini ditulis (La Liga tinggal tersisa tiga laga) Barca yang telah memastikan gelar juara cuma kebobolan 23 kali berasal dari 35 laga. Mereka terhitung mencatatkan 18 kali nirbobol. Musim selanjutnya Barca yang cuma mendapatkan gelar juara Copa del Rey kebobolan 37 kali di La Liga. Nirbobol `hanya` 13 kali. Maka barangkali inilah yang dimaksud Van Galen pada Fantasista bahwa sebuah tim tidak membutuhkan dua fantasista. Cerita pada manga “Fantasista” di awal tulisan inilah yang ulang menyeruak pada permukaan ingatan disaat aku membaca komentar-komentar pemain dan para pengamat La Liga tentang tampilan Barcelona musim ini. Messi dan Neymar adalah dua pemain yang layak disebut fantasista. Fantasista ini bukan peran bahkan posisi dalam sebuah formasi. Fantasista adalah istilah Bahasa Italia untuk pemain yang mempunyai mutu individu mumpuni dan olah bolanya bisa membuat pemirsa berdecak kagum. Fantasista sama dengan nomor punggung 10 di masa 90-an, layaknya Roberto Baggio, Alessandro Del Piero, Francesco Totti, Diego Maradona hingga Pele di masa lalu. Akan namun tersedia terhitung pemain-pemain yang dijuluki fantasista namun tidak mengenakan nomor 10, layaknya Andrea Pirlo (21), Johan Cruyff (14), Franz Beckenbauer (5), Alvaro Recoba (20), Zinedine Zidane (21), Ricardo Kaka (22), bahkan hingga yang terkini yakni Cristiano Ronaldo (7). Lionel Messi dan Neymar pun terhitung kategori pemain yang layak disebut sebagai fantasista. Penampilan individu keduanya bisa pilih hasil akhir pertandingan dan membuat pemirsa terpusat perhatiannya pada mereka. Nah, munculnya Neymar sebagai fantasista baru di sepakbola selagi ini tak terlepas berasal dari penampilannya dengan Barca. Saat awal bergabung Barca pada 2013, Neymar masih berada dalam bayang-bayang Messi. Ia cuma mencetak 9 gol dan 10 asis di La Liga (total 15 gol di segala ajang). Satu musim berikutnya, Neymar merasa terbiasa atmosfer sepakbola Eropa. Ia pun mencatatkan 22 gol dan 9 asis di La Liga. Walaupun begitu catatan berikut masih membuatnya berada di bawah Messi yang keseluruhan mencetak 58 gol dalam satu musim.

Eticaretsayfam ©2019. All Rights Reserved.
Powered by WordPress. Theme by Phoenix Web Solutions